Harga Pertamax Bisa Tembus Rp20 Ribu per Liter

occupiedmedia – Harga Pertamax berpotensi berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter jika tekanan harga minyak dunia terus bertahan. Pertamina menilai konflik berkepanjangan di Timur Tengah membuat pergerakan harga energi global semakin sulit diprediksi.

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menyampaikan kondisi pasar minyak saat ini jauh lebih pelik dibanding periode konflik Rusia-Ukraina. Menurutnya, harga minyak belum menunjukkan tanda penurunan yang cukup kuat untuk mengurangi tekanan terhadap harga BBM nonsubsidi.

Pernyataan tersebut muncul ketika minyak global kembali menembus level tinggi. Pada perdagangan 11 September 2026, Brent bahkan sempat menyentuh sekitar US$109,97 per barel sebelum bergerak turun. Ketegangan di kawasan Teluk dan gangguan jalur distribusi energi tetap menjadi perhatian pasar.

Namun, masyarakat perlu mencatat satu hal penting. Pernyataan Pertamina mengenai kisaran Rp18.000–Rp20.000 bukan berarti harga Pertamax telah resmi ditetapkan pada angka tersebut.

Angka itu menggambarkan potensi apabila tren minyak dunia tetap tinggi dan tekanan biaya tidak mereda.

Harga Pertamax Bisa Tertekan Minyak Dunia

Pertamina melihat perkembangan harga minyak internasional sebagai salah satu faktor utama yang menentukan ruang penyesuaian BBM nonsubsidi.

Eko mengatakan, apabila harga minyak tidak kembali mendekati level sebelum eskalasi geopolitik, tekanan terhadap produk seperti Pertamax akan semakin besar.

Dalam kondisi tersebut, harga Pertamax berpeluang bergerak menuju kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter.

Situasi menjadi semakin sensitif karena minyak mentah tidak hanya dipengaruhi permintaan dan produksi.

Pasar juga memasukkan risiko geopolitik, keamanan kapal tanker, kapasitas ekspor negara produsen hingga gangguan pada jalur pelayaran strategis.

Oleh sebab itu, perubahan situasi keamanan dapat dengan cepat memengaruhi harga minyak.

Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Ketegangan di Timur Tengah kembali menjadi faktor penting di balik lonjakan minyak.

Pertamina menyoroti situasi di sekitar Selat Hormuz. Jalur ini memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu koridor utama pergerakan minyak dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.

Reuters melaporkan serangan terhadap kapal tanker dan meningkatnya konflik yang melibatkan Iran telah menekan jalur pasokan minyak kawasan.

Pada 10 September 2026, minyak Brent ditutup di level US$107,63 per barel. West Texas Intermediate atau WTI juga menembus US$102,48 per barel.

Keesokan harinya, harga sempat bergerak lebih tinggi sebelum kembali terkoreksi.

Meski turun dari puncaknya, minyak masih berada jauh di atas level beberapa pekan sebelumnya. Kondisi itu menunjukkan pasar belum sepenuhnya yakin pasokan energi global akan segera kembali normal.

Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting?

Selat Hormuz berperan besar dalam perdagangan energi dunia.

Ketika pelayaran terganggu, pasar langsung memperhitungkan risiko penurunan pasokan. Bahkan jika minyak secara fisik masih tersedia, biaya pengiriman dan premi risiko bisa meningkat.

Situasi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi biaya pengadaan bahan bakar.

Bagi negara seperti Indonesia yang masih membutuhkan impor untuk memenuhi sebagian konsumsi minyak dan BBM, lonjakan harga global dapat menambah tekanan.

Karena itu, harga Pertamax tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar energi internasional.

Harga Pertamax Saat Ini Masih Rp15.950

Di tengah lonjakan minyak, Pertamina sebelumnya memilih menahan harga Pertamax pada September 2026.

Untuk wilayah dengan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 5 persen seperti DKI Jakarta, Pertamax RON 92 masih dibanderol Rp15.950 per liter pada awal September.

Harga tersebut tidak berubah dari Agustus.

Pada 1 Agustus 2026, Pertamina justru sempat menurunkan Pertamax dari Rp16.250 menjadi Rp15.950 per liter. Penyesuaian dilakukan ketika kondisi pasar memungkinkan perusahaan menurunkan sejumlah produk BBM nonsubsidi.

Namun, keadaan berubah cepat memasuki September.

Pertamax memang masih ditahan, tetapi beberapa produk lain telah mengalami kenaikan.

Sejumlah BBM Pertamina Sudah Naik

Pada 1 September 2026, Pertamina menaikkan beberapa produk BBM nonsubsidi.

Rinciannya untuk wilayah Jakarta antara lain:

  • Pertamax: Rp15.950 per liter
  • Pertamax Turbo: Rp19.600 per liter
  • Dexlite: Rp23.700 per liter
  • Pertamina Dex: Rp25.200 per liter

Pertamax Turbo naik dari Rp18.300 menjadi Rp19.600 per liter. Sementara itu, Dexlite melonjak dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter dan Pertamina Dex berubah dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter.

Pertamina menjelaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada formula pemerintah.

Perusahaan mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, pajak serta faktor lain seperti daya beli masyarakat.

Artinya, penetapan harga Pertamax tidak hanya mengikuti satu indikator.

Mengapa Pertamax Belum Langsung Naik?

Pertamina sebelumnya menyebut faktor daya beli dan kondisi sosial masyarakat turut menjadi pertimbangan ketika perusahaan tidak menaikkan Pertamax pada awal September.

Keputusan tersebut membuat Pertamax tetap berada di Rp15.950 per liter meskipun beberapa produk nonsubsidi lainnya naik.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet sebelumnya memperkirakan harga keekonomian Pertamax berada di sekitar Rp16.700–Rp16.800 per liter.

Dengan harga jual Rp15.950, menurut perhitungannya terdapat selisih sekitar Rp750 hingga Rp900 per liter dibanding perkiraan harga keekonomian.

Namun, perhitungan tersebut dibuat sebelum minyak kembali melonjak ke atas US$100 per barel.

Dengan demikian, tekanan keekonomian dapat berubah apabila harga minyak bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.

Apa yang Menentukan Harga Pertamax?

Ada beberapa faktor utama yang dapat memengaruhi harga Pertamax.

1. Harga minyak mentah dunia

Minyak mentah merupakan komponen penting dalam struktur biaya energi.

Ketika harga Brent atau acuan minyak lainnya meningkat, biaya pengadaan juga berpotensi meningkat.

2. Nilai tukar rupiah

Transaksi minyak internasional mayoritas menggunakan dolar AS.

Jika rupiah melemah terhadap dolar pada saat minyak naik, tekanan biaya bisa menjadi lebih besar.

3. Biaya pengolahan dan distribusi

Minyak mentah harus diproses, disimpan dan didistribusikan hingga sampai ke SPBU.

Seluruh proses tersebut memiliki komponen biaya.

4. Pajak

Harga BBM juga dipengaruhi pungutan dan pajak yang berlaku di masing-masing wilayah.

Itulah sebabnya harga produk Pertamina tidak selalu sama di seluruh Indonesia.

5. Kondisi sosial dan daya beli

Untuk produk tertentu, Pertamina juga mempertimbangkan kemampuan konsumen.

Pertimbangan inilah yang sebelumnya menjadi salah satu alasan perusahaan menahan Pertamax pada awal September.

Apakah Harga Pertamax Pasti Menjadi Rp20 Ribu?

Belum tentu.

Pernyataan Pertamina lebih tepat dibaca sebagai skenario jika tekanan harga minyak terus berlangsung.

Harga Pertamax bisa saja tidak mencapai Rp20.000 apabila harga minyak kembali turun, konflik mereda atau faktor lain seperti kurs bergerak lebih mendukung.

Sebaliknya, risiko kenaikan akan semakin besar apabila minyak bertahan di atas US$100 dalam jangka waktu lama.

Pasar energi saat ini masih sangat dinamis.

Reuters melaporkan Brent telah naik tajam akibat gangguan pasokan dan ketegangan di jalur pelayaran Timur Tengah. Meski harga sempat turun pada 11 September, Brent masih mencatat kenaikan mingguan lebih dari 7 persen.

Dengan situasi tersebut, sulit memastikan arah harga Pertamax hanya berdasarkan pergerakan minyak satu atau dua hari.

Pasokan Global Masih Menjadi Tantangan

Tekanan tidak hanya berasal dari pergerakan harga di pasar.

International Energy Agency atau IEA juga melihat gangguan pasokan minyak global semakin besar akibat konflik Timur Tengah.

Reuters melaporkan IEA memperkirakan normalisasi arus minyak Teluk bisa tertunda hingga 2027 jika gangguan berlanjut. Produksi dan distribusi dari beberapa kawasan produsen utama juga masih berada di bawah kondisi normal.

Situasi ini membuat pasar energi sulit kembali stabil dengan cepat.

Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan tetap tinggi, harga biasanya mendapat tekanan ke atas.

Kondisi inilah yang membuat proyeksi harga Pertamax kembali menjadi perhatian masyarakat.

Dampak Jika Harga Pertamax Naik

Kenaikan Pertamax akan langsung terasa bagi pengguna kendaraan pribadi yang rutin menggunakan BBM RON 92.

Sebagai gambaran sederhana, jika pengendara membeli 40 liter Pertamax dan harga berubah dari Rp15.950 menjadi Rp18.000, biaya satu kali pengisian bertambah sekitar Rp82.000.

Jika harga mencapai Rp20.000, tambahan biaya dibanding harga Rp15.950 mencapai sekitar Rp162.000 untuk pembelian 40 liter.

Dampaknya bisa lebih terasa bagi pengguna kendaraan dengan mobilitas tinggi.

Namun, efek ekonomi makro dari Pertamax tidak selalu sama dengan kenaikan BBM subsidi karena segmen konsumennya berbeda.

Meski demikian, perubahan harga tetap dapat memengaruhi anggaran rumah tangga, biaya operasional bisnis dan pola konsumsi masyarakat.

Pengguna Kendaraan Tidak Perlu Terburu-buru Panik

Masyarakat sebaiknya tidak langsung menganggap harga Pertamax Rp20.000 sudah berlaku.

Sampai terdapat pengumuman resmi mengenai perubahan harga, acuan konsumen tetap harga yang ditetapkan Pertamina di wilayah masing-masing.

Selain itu, harga BBM bisa berbeda antardaerah karena struktur pajak daerah.

Karena itu, informasi harga sebaiknya diperiksa melalui kanal resmi Pertamina atau SPBU sebelum melakukan pembelian.

Pengguna kendaraan juga tidak disarankan mengganti jenis BBM semata-mata karena isu harga tanpa memperhatikan rekomendasi oktan mesin.

Pemilihan bahan bakar tetap perlu disesuaikan dengan spesifikasi kendaraan.

Harga Minyak Jadi Kunci Berikutnya

Dalam beberapa hari dan pekan ke depan, perhatian pasar kemungkinan tetap tertuju pada Timur Tengah.

Apabila situasi keamanan membaik dan pengiriman minyak melalui jalur strategis kembali normal, harga minyak memiliki peluang melemah.

Kondisi tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap harga Pertamax.

Namun, jika konflik semakin luas atau gangguan pengiriman berlangsung lama, pasar kemungkinan mempertahankan premi risiko yang tinggi.

Pertamina sendiri mengatakan belum terlihat penurunan harga minyak yang cukup signifikan. Karena itu, potensi Pertamax berada di rentang Rp18.000–Rp20.000 masih terbuka apabila tekanan global berlanjut.

Kesimpulan

Potensi harga Pertamax mencapai Rp18.000 hingga Rp20.000 per liter menjadi sinyal bahwa konflik geopolitik mulai memberi tekanan nyata terhadap pasar energi Indonesia.

Saat ini, angka tersebut belum menjadi harga resmi Pertamax.

Pertamax masih berada di Rp15.950 per liter untuk wilayah Jakarta berdasarkan penetapan harga September 2026. Namun, kenaikan minyak dunia di atas US$100 per barel membuat ruang Pertamina untuk terus menahan harga semakin mendapat tantangan.

Arah berikutnya akan sangat bergantung pada harga minyak mentah, kurs rupiah, keamanan jalur pasokan dan keputusan pemerintah bersama Pertamina.

Karena situasinya berubah cepat, masyarakat sebaiknya mengandalkan pengumuman resmi sebelum menyimpulkan adanya kenaikan.

seogates123@gmail.com

Share
Published by
seogates123@gmail.com

Recent Posts

Hak Penyandang Disabilitas Harus Dijamin Konsisten

occupiedmedia - Hak penyandang disabilitas dinilai tidak cukup hanya dijamin melalui undang-undang. Negara juga perlu…

3 minggu ago

KPK Geledah Kasus Rektor Unsoed di Enam Lokasi

occupiedmedia - KPK geledah kasus Rektor Unsoed dengan menyisir enam lokasi baru dalam pengembangan perkara…

3 minggu ago

Demo Hari Ini Jadi Sorotan, Simak Kronologinya

occupiedmedia - Gelombang informasi tentang demo hari ini mendadak memenuhi media sosial. Berbagai unggahan, video…

5 bulan ago

Tekanan APBN Meningkat Akibat Konflik Global dan Harga Energi

occupiedmedia - Ketidakpastian global kembali menjadi ujian berat bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Konflik geopolitik…

5 bulan ago